Rabu, 02 Februari 2011

IBC Indonesia Barista Competition 2011 Surabaya



Mari kita memberikan ucapan selamat kepada enam finalis IBC Surabaya yang meraih tiket ke grand final di Jakarta bulan April mendatang. Wilyanto dari Sidewalk Coffee kota Kediri berhak menyandang juara pertama dan menyisihkan 25 peserta yang datang dari berbagai kota di Jawa Timur. Sebagai pemenang, Wili  meraih hadiah utama berupa voucher sebesar 5 juta rupiah dari Toffin Product. Kegiatan IBC wilayah Surabaya baru saja diselenggarakan pada tanggal 28-30 Januari di hotel Singgasana, Jl. Gunung Sari Surabaya.


 Sambil menunggu giliran tampil, peserta selanjutnya hanya diberikan waktu 15 menit untuk bersiap dan kali ini mereka harus melakukannya sendiri. Peserta yang sudah tahu sulitnya menghadapi grinder,  langsung melakukan penyesuaian setting-nya agar bubuk kopi benar2 di brew oleh mesin espresso dalam kisaran waktu 20-30 detik. Pada beberapa kali technical meeting, Tuti Mochtar selaku head judge memang selalu menyarankan agar setting grinder selalu diutamakan sebelum menata perlengkapan lainnya di atas meja. Hal ini dimaksudkan agar setting grinder sebagai bagian tersulit diselesaikan terlebih dahulu sebelum melakukan aktivitas lain. Seorang peserta mengakui, saking asyiknya melakukan persiapan, pada saat lomba ia kelupaan mengeluarkan cangkir untuk signatur drink-nya yang ternyata masih berada dalam kardus.

Sambil menunggu giliran tampil, peserta selanjutnya hanya diberikan waktu 15 menit untuk bersiap dan kali ini mereka harus melakukannya sendiri. Peserta yang sudah tahu sulitnya menghadapi grinder,  langsung melakukan penyesuaian setting-nya agar bubuk kopi benar2 di brew oleh mesin espresso dalam kisaran waktu 20-30 detik. Pada beberapa kali technical meeting, Tuti Mochtar selaku head judge memang selalu menyarankan agar setting grinder selalu diutamakan sebelum menata perlengkapan lainnya di atas meja. Hal ini dimaksudkan agar setting grinder sebagai bagian tersulit diselesaikan terlebih dahulu sebelum melakukan aktivitas lain. Seorang peserta mengakui, saking asyiknya melakukan persiapan, pada saat lomba ia kelupaan mengeluarkan cangkir untuk signatur drink-nya yang ternyata masih berada dalam kardus.

Walau peserta sudah mempersiapkan diri sebaik mungkin, memang tidak mudah tampil dihadapan tujuh orang juri yang mengikuti gerak-gerik mereka. Peserta memerlukan ketenangan, konsentrasi, dan manajemen waktu agar waktu 15 menit mencukupi. Pada beberapa kesempatan, pemilihan signature drink yang terlalu kompleks seringkali membuat peserta kehabisan waktu dan kehilangan konsentrasi pada saat2 genting, sehingga ada yang hampir over time, dan harus merelakan tempat kerjanya diabaikan.


Tapi mungkin saking tegangnya dan takut kehabisan waktu, ada juga peserta yang menyuguhkan racikan signature drink tapi terlupa mencampurnya dengan kopi. Under dan over extraction saat membuat espresso adalah hal yang juga sering terlihat pada saat lomba dan membuat para juri sensory (perasa) harus lebih “bekerja keras” dalam menjalankan tugasnya.


Pada saat diumumkan dari 26 peserta yang mengikuti lomba, 11 harus didiskualifikasi karena melampaui waktu 15 menit yang telah ditentukan oleh panitia. Panitia juga menggarisbawahi secara keseluruhan nilai peserta IBC Surabaya belum mampu menggeser kedudukan Bali dan Jogja dengan peroleh nilai tertinggi 449 point (Bali 600an). Atas hasil tersebut, maka panitia IBC akhirnya memutuskan untuk menghilangkan agenda final dimana biasanya 10 peserta dilombakan kembali dihari kedua. Pada IBC di Surabaya,  panitia memutuskan untuk menggantikannya dengan kegiatan workshop setengah hari bagi keenam finalis.


Workshop dimaksudkan agar peserta lebih mendalami esensi lomba dari sisi teknis dan pendalaman dari pengetahuan yang telah mereka peroleh selama ini. Pada sesi workshop di hari kedua, Surip Mawardi, peneliti senior dari Indonesian Coffee and Cocoa Research Institute Jember membekali peserta dengan pengetahuan mengenai kopi dari proses tanam hingga penyajian. Surip menekankan sifat biji kopi yang menyerap bau2an hingga sangat rentan dengan aroma sekitar. Diperlukan ketelatenan dari mulai pemilihan varietas, perawatan tanaman, pengolahan, roasting, hingga penyajian yang salah satunya merupakan tugas dari para Barista.

Peserta juga diperlihatkan video mengenai penyajian kopi yang dipresentasikan oleh Kyle Glanville, juara Barista Amerika tahun 2008 dari Intelligentsia. Setelah itu ketua panitia IBC Adi W. Taroepratjeka dan Irvan Helmi, juri dari Anomali memulai pelatihan khusus untuk keenam peserta dan beberapa peserta lain yang hadir pada saat itu. Keduanya secara detail memberikan “kursus” singkat mengenai apa yang diharapkan dari peserta dari sisi teknis, cara penyajian, hingga penampilan selama lomba. Panitia sangat mengharapkan bila workshop ini akan bisa meningkatkan kemampuan mereka saat bertanding pada babak grand final di Jakarta bulan April nanti.

Sampai jumpa di kota Bandung lokasi IBC berikutnya pada tanggal 23-25 Februari, 2011
di Maxi’s Resto, Jl. Gunung Agung 8, Ciumbuleuit. di kutip dari www.cikopi.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar